Mengenangmu

hujan dan senja

menjelmakan lamunan penuh air mata

jiwaku melayang

bersama tiupan angin

entah di huma mana ku kan didamparkan

kuberikan saja pada lintasan takdir

aku dan kamu

mengikat doa sepanjang hayat

Iklan
Featured post

Harimu (Re-Post Ultah 27 Agustus 15)

Ini hari istimewamu, harusnya aku ada di sampingmu. Kita berdua nikmati indahnya senja atau sekedar duduk nikmati aroma kopi sambil bersandau gurau, seperti tahun-tahun yang lalu. Bicarakan semua hal tentang indahnya kisah sedu sedan, tawa ria, yang pernah kita lewat bersama.

Waktu yang pernah kita tapaki bersama adalah saat terindah sepanjang hidupku, dan kamulah yang kerap mengkanvaskan goresan-goresan warna di setiap langkahku.

Adamu adalah takdirku yang senantiasa aku terima dalam keikhlasan hati meski terkadang kisahnya yang berpihak. Kedukaan yang pernah menghadang jalan kita, adalah onak yang perangi bersama dengan kasih yang tiada batas.

Ini hari istimewamu, maafkan aku yang tak kuasa ucapkan dedoa terbaik, meski sudah aku persiapkan jauh-jauh sebelum hari ini tiba waktunya. Rangkaian doaku padamu tercekat di antara rindu dendam yang kuasai hati, hingga keegoisanku bertengger angkuh saat ini.

Namun, percayalah masih ada ruang di kalbuku untukmu, untuk kita kembali menuliskan cerita yang belum sempat kita catatkan di batas cakrawala. Aku menunggumu, untuk kembali mentautkan tangan, berjalan beriringan menuju senja, di mana akan aku persembahkan segenap rasa, hanya untukmu.

Selamat Ulang Tahun,

Semoga keberkahan senantiasa menaungi harimu, suamiku…

 

27 Agustus 2015aku dan kamu2

Belahan Jiwa, Pergilah

Dia pergi dalam pelukanku di ambang sore, sesaat sebelum panggilan sholat ashar berkumandang. Aku hantarkan kepulangannya menghadap Illahi dengan Kalimatullah dari bibirku yang meluncur deras, sederas air mataku.

Saat irama jantungnya yang terekam di monitor kulihat melemah, dalam getar, dan rasa yang entah saat itu, aku bisikkan padanya “Kalau kamu mau pergi dariku, pergilah, aku ikhlas, anak-anak ikhlas, aku mencintaimu.. laa ilaaha illallah”

Perlahan detak jantungnya melemah, hingga di monitor pemantau jantung, hanya ada garis lurus. Lalu dokter mengatakan bahwa suamiku, belahan jiwaku, dinyatakan meninggal dunia”

Seketika aku  meminta dokter memacu lagi jantungnya, aku yakin dia masih hidup, dia hanya koma, aku tak pecaya bahwa dia benar-benar meninggalkan aku. Dia telah menggenapkan tugasnya sebagai pendampingku detik itu juga

Saat itu aku lupa, bahwa Allah adalah penentu takdir, aku berteriak ke dokter “Dokter  salah, dia masih hidup dok, tolong saya, dia pernah janji ke saya mau ajak saya umroh dok, tolong pasang alat-alatnya lagi dok…, dia hanya koma dokter”

Dan banyak permintaanku ke dokter yang aku sendiri tak sadar ucapkan. Adikku menarik tubuhku, dibawanya aku masuk mobil.

“Aku mau temani papa” rajukku pada adik sepupuku.

“Sudah mbak pulang aja, biar mas ditemani bapak” kebetulan memang pamanku bapak dari sepupuku,dari awal nemeni aku di ruang ICU rumah sakit itu. “Mas sudah senang, gak sakit lagi, sekarang kita pulang, nyiapin segalanya buat hari terakhirnya”
Sambil terus menangis, saat itu, aku hubungi anak-anak, sahabat-sahabat dan saudaraku persatu

Hati siapa yang tidak teriris pedih, semenjak kami menikah, seringkali dia bertugas di luar kota bahkan di luar negeri, Namun terhitung semenjak April 2016, kami selalu bersama. Dia tidak kerja lagi karena kesehatannya yang naik turun. Praktis hari-hariku hanya berdua dengannya saat anak-anak kerja dan sekolah.

Merawat sakitnya selama ini, ada iba, ada kesal dan ada bahagia. Iba karena sebelum sakitnya, dia adalah lelaki kuat yang “gila kerja”, aku tahu dia “tersiksa” sebab tidak bisa kerja. Aku selalu besarkan semangatnya, dan mendoa untuknya agar dia bisa kembali sehat dan bekerja. Kesal karena terkadang dia tidak bisa dipantang soal makanan, aku cerewet soal ini, sedang dia terlalu cuek. Kadang juga malah nyuri-nyuri pergi sendiri hanya untuk beli nasi brongkos kesukaannya. Tapi terakhir dia mulai menurut saranku setelah di suatu malam, sambil menangis aku katakan padanya “Mas, sekarang terserah kamu deh, aku sebagai istri inginkan yang terbaik untukmu, tiap detik aku berdoa untuk kesembuhanmu karena aku sayang kamu, tapi kalau kamu gak bisa menahan nafsu makanmu, aku nyerah”. Dia diam, tapi aku yakin dia mengiyakan apa yang aku katakan.

Terbukti saat diajak sahabatnya jalan-jalan, dia menolak ajakan makan nasi brongkos, sahabatnya cerita ke aku, katanya beralasan “Nanti istriku ngamuk kalau aku makan brongkos”. Apapun alasannya, aku senang dia mulai memikirkan kesehatannya sendiri.

Setahun setengah bersama, tak  mudah bagiku menerima perpisahan ini. Aku ingin berontak sama Tuhan “Kenapa disaat aku sangat menyayanginya, Tuhan ambil dia?”.

Astagfirullah…gejolak hatiku tak beraturan. Kadang aku ingin marah sama Tuhan, tapi kadang aku sadar, bahwa Tuhan terlalu sayang sama dia. Sakitnya telah Dia cabut, tugasnya telah Dia tuntaskan. Tuhan ambil dia dalam keadaan yang sangat baik. Seharian sebelum ajalnya, jam 3 dini hari dia sholat tahajud, dilanjutkan membaca Al Qur’an. Hingga pagi setelah sholat subuh dia mandi dan mempersiapkan diri untuk cuci darah yang kedua kalinya. Jam 7 pagi aku suapin dia, meski sebenarnya bisa makan sendiri, namun entah aku ingin sekali menyuapinya. Lalu aku antar pakai motor ke RSU untuk cuci darah.

Saat mesin hemodialisa berjalan dia tertidur, dan aku juga tertidur di sampingnya. Tak lama dia mengusap lenganku sambil berkata “Sana sarapan dulu, trus tidur di rumah”.

Merasa dia akan baik-baik saja aku pulang, dan tidur di rumah. Hingga jam 10:30 wib, aku kembali ke RSU. Ternyata mesin hemodialisa macet karena ada pembekuan darah. Dan dia tidak mau diulang, katanya “Aku sudah sangat sakit”.

Aku menuruti kemauan dia untuk pulang secepatnya, meski perawat menyarankan agar dia rehat dulu di ruangan hemodialisa itu. Aku tahu dia akan nyaman di rumah ketimbang harus menunggu di RSU.

Aku pesankan Grab buat antar dia pulang. Dia terlihat sangat lemas karena tensinya ngedrop 80/… Sesampai di rumah, aku bikinkan dia teh panas, aku suapi dia beberapa sendok. Lalu dia tertidur.

Hanya beberapa menit tidur, dia terbangun, dia minta aku mengelus-elus dadanya. Aku menuruti permintaannya. Lalu dia meminta aku tidur disampingnya, pun aku ikuti sambil masih terus mengelus dadanya perlahan.

Saat sholat dhuhur tiba, aku minta dia sholat dulu dengan tayamum saja. Namun setelah sholat aku lihat fisiknya yang makin melemah, aku tawarkan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi dia menolak “Keloni aku di rumah saja”. elaknya.

Namun waktu berputar seakan sangat lambat, sedang dia makin melemah. Untung adik sepupu datang bersama suami. Atas rundingan bersama, kami memutuskan membawanya ke rumah sakit yang pelayanannya lebih baik. Aku bawa dia ke rumah sakit di Parakan, kota kelahiran nya.

Di dalam mobil dalam perjalan ke rumah sakit, aku duduk di sampingnya sambil mengelus punggungnya. Aku melihat binar matanya sangat bahagia, mirip anak kecil yang diajak jalan-jalan. Aku pikir dia senang karena selama beberapa minggu dia tidak aku ajak jalan-jalan karena dirawat di rumah sakit. Matanya sama sekali gak melihat ke arahku, meski tanganya kemudian menggenggam tanganku.

Sesampai di ruang IGD,pukul 14;00 wib, dia masih sangat lantang menyebutkan namanya. Beberapa saat aku ditanya-tanya dokter, kemudian aku dipersilahkan keluar, krn akan dipasang kateter.

Baru saja aku letakkan tubuhku di kursi aku dipanggil perawat, katanya “suami kejang bu”

Alu lari ke arah tempat dia dibaringkan, aku lihat dia tengah kejang, aku dekati telinganya, aku tuntun dia untuk selalu menyebut asma Allah, untuk selalu doa meski dalam hati. Sesaat  dia sudah tak kejang lagi. Aku tidak peduli para perawat sibuk memacu jantungnya. Mulutku sibuk membisiki Asma Allah dan dedoa di telinganya. Tidak ada 15 menit kemudian dia berpulang ke Rahmat Allah dalam dekapanku.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Allah telah mengambilnya dari pelukanku, aku harus ikhlaskan dia, meski hingga detik ini aku belum sanggup menata hati.  Tapi aku harus ikhlaskan kepergiannya.

Al Fatihah

 

Dengan duka dan air mata aku lepas kepulangannya ke rumah Allah…

Selamat jalan belahan jiwaku, maafkan aku
Bahagialah kau di surgaNya…
Aku masih di sini, untuk melanjutkan tugasmu demi anak-anak kita

RIP
Sumardiyanto Harjo Suprapto
27 Agustus 1965
17 September 2018

mas well

 

                           

 

Wisata dalam Kota Temanggung

 

Sejak menjadi “pengusaha” angkringan (nggak boleh protes lo ya mbak bro semua-setiap orang yang punya usaha disebut pengusaha hehehe), sepertinya aku jadi melupakan Temanggung beserta tetek bengeknya (untuk kata ini kadang heran teteknya siapa yang bengek?),terutama dunia malam. Padahal yang aku sadari, alam dunia Temanggung ini selalu mampu membuat gejolak berfiksiku meluap-luap, bahkan luapan air Katulampa di barat sana kalah dengan hasratku, meski akhirnya mentok hanya menjadi draft dengan beberapa kalimat .

 

Sesekali sih sebenarnya aku “keluar” menikmati kota sejuk ini, ke pasar. Namun angka-angka rupiah dari otakku ternyata lebih menguasai otakku, sehingga menutupi daya khayalku bermain kata. Dan aku ikhlas saja dikuasai daftar belanja dan olahan pikiran untuk menyukupkan kebutuhan hidup

 

Terhitung sudah 3 bulan ini hidup dan kehidupanku berkutat dapur, sumur,gerobag angkringan yang berisi nasinya meong, aneka sate kelas kaki limaan, minuman jahe dan kopi saja. Hingar bingar Temanggung terlupa untuk sejenak. Padahal dengan maraknya pembangunan pra sarana dan sarana yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten demikian gemebyar.

 

Tugu Nol Km yang berseberangan dengan Kelenteng telah disulap menjadi tempat rekreasi murah meriah dengan air mancur yang nyala mulai pukul 18:00 WIB, apik untuk berfoto para penggemar selfi. Apalagi di samping tugu ada Taman Pancasila yang penataan tamannya asyik untuk tempat menyegarkan mata dan jiwa.

 

Alun-alun yang dulu hanya sebatas tempat minum sop buah dan mbakso kini menjadi arena berjoget air mancur dengan papan nama memerah yang menegaskan bahwa Temanggung adalah Kota Tembakau. Kini malam hari di sekitar alun-alun menjadi lebih berwarna dengan permainan lampu dalam air mancurnya.

 

Taman Pengayoman yang letaknya tepat berada di belakang Rumah Dinas Bapak Bupati, Pendopo Pengayoman pun tak luput dari “penyegaran” Pemkab terkait. Taman yang lumayan luas kini telah disulap menjadi pusa kuliner dengan aneka makanan khas Temanggung , baik siang maupun malam. Jadi kita tak perlu lagi bingung bila ingin berwisata kuliner atau sekedar menikmati jajanan dengan tempat yang nyaman, sejuk dengan pepohonan yang diatur rapi di sini.

 

Nah mumpung sekarang  long  weekend yuk mari kita nikmati malam di sekitar Tugu Nol Km, Taman Pengayoman atau Alun-alun.

Hanya pesan saja, setelah menikmati wisata di dalam kota Temanggung, jangan  lupa mampir ke Angkringan Puri, yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan 35 Temanggung, depan gapura Puri Kencana atau depan Sekolah HKTI, dijamin  bisa nglaras jiwa,  dengan spesial menu sate gembus

*promo*

 

alun2 top

(sumber gambar : FB Kota Temanggung – https://www.facebook.com/kotatemanggung/ )

tugu jam -tugu jam fb.jpg

(sumber gambar : FB Kota Temanggung- https://www.facebook.com/kotatemanggung/ )

pengayoman.jpg

(sumber gambar : https://temanggungan.com/taman-pengayoman-temanggung-dilengkapi-50-kios-kuliner/ )

puri sonya.jpg

(sumber gambar – selsa – menu di Angkringan Puri-Kumpul Konco Nglaras Jiwo-Jl Perintis Kemerdekaan Temanggung )

Puisi, Kata Hati yang Perlu Diendapkan

“Endapkan dulu, baca kembali, baru kalau sudah mantap setorkan” begitu pesan suhu perpuisian Bapak Roso Titi Sarkoro, penyair asal Temanggung, saat aku sodorkan beberapa puisi untuk dibukukan dalam sebuah antologi beberapa tahun silam.

Saat itu aku hanya tersenyum, perasaan sih puisi-puisiku sudah “final” dan tak perlu lagi ada edit atau ralat. Dengan enggan malamnya aku baca-baca lagi puisi itu. Dan ternyata benar apa yang dikatakan suhu itu, bahwa puisi memang perlu diendapkan, karena di beberapa puisiku itu ada semacam “kewaguan” (baca – tidak indah) saat dibaca.

Lalu aku membaca kembali puisi-puisi yang pernah aku tulis, baik yang sudah dibukukan ataupun yang ngendon di file laptop, banyak sekali kutemukan “kewaguan” di sana. Banyak yang harus aku edit dan ralat kembali, baik pemilihan diksi maupun tata letak bait-baitnya. Duh.. jadi malu sendiri.

Semula aku berpendapat bahwa puisi itu kata hati yang dituang dalam bahasa, namun seiring waktu ternyata ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan saat membuat puisi atau paling tidak memproklamirkan diri tulisan kita itu sebagai puisi. Meski sejatinya aku tidak begitu “patuh” dengan kaidah-kaidah baku penulisan sebuah puisi.

Menulis puisi itu mudah, namun tetap saja harus diperhatikan pemilihan diksi dan kesesuaian judul dengan isinya. Sebab menurut pengalamanku sebagai pembaca puisi, para pemula, menulis puisi panjang namun di tengah puisi, kalimat-kalimatnya (bait-baitnya) melenceng dari judul dan tidak fokus pada tema.

Ini juga sebenarnya rahasiaku saat menulis puisi, belum berani menulis puisi panjang sebab khawatir “lepas” dari ide awal dan judul.

Untuk pemula (wes kaya aku ini bukan pemula saja hehehe) sebaiknya mencari referensi terhadap karya-karya penyair yang sudah mumpuni di dunia perpuisian.

Menulis puisi tidak sekedar menggoreskan kata-kata, puisi adalah bahasa hati yang tertulis dengan indah dan perlu pengendapan.

Ok teman, mari kita menulis puisi bersama.

Persahabatan dan Percintaan

cropped-pelangi2.jpg

Persahatan jadi cinta, atau cinta jadi persahabatan, persahabatan bisa melahirkan cinta namun percintaan belum tentu berakhir menjadi persahabatan. Iya kah? Mari kita urai satu persatu.

Persahabatan jadi cinta.

Meski tidak semua sebuah persahabatan berakhir menjadi percintaan, namun sepertinya banyak dari kita yang mengalaminya
Awal bersahabat (antara manusia yang berlainan jenis), menghabiskan waktu dalam kebersamaan yang indah. Duka dan bahagia dilalui bersama. Rintangan dihadapi bersama, kemenangan pun dinikmati bersama. lalu berakhir menjadi sebuah percintaan. Sepertinya hal yang lumrah, sesuai pepatah jawa kuno wiwiting tresna jalaran seko kulino. Lahirnya cinta karena seringnya bertemu, itu kira-kira terjemahan bebasnya. Dari sering bertemu dan menjalani kehidupan bersama, timbulah benih-benih cinta. Jadi wajar kan bila sebuah persahabatan kemudian membuahkan cinta dalam hati masing-masing?.

Percintaan menjadi persahabatan.

Adapun kalimat kedua ini, sepengetahuan penulis sih hanya beberapa contoh ketika sebuah ikatan percintaan dua anak manusia berakhir, lalu keduanya menjadi sahabat. Ada sih contoh beberapa hubungan percintaan yang kandas lalu mereka menjadi sahabat. Namun jumlahnya sepertinya tidak sebanyak yang berakhir menjadi persahabatan. Sebab kebanyakan cinta berakhir karena terganjal masalah, entah masalah sepele atau masalah besar seperti perselingkuhan atau perbedaan prinsip
Namun semuanya juga tergantung dari pribadi masing-masing. Apakah kita bisa menyikapi berakhirnya kisah cinta dengan baik atau malah akan menimbulkan sakit hati ataupun dendam.

Lalu kita berada di kalimat mana nih? Mari sebelum tidur kita sempatkan waktu sedikit untuk sekedar mengingat-ingat, langkah apa yang pernah kita lakukan sehubungan dengan persahabatan dan cinta ini? Pernahkah kita bersahabat dengan seseorang lalu membuat hati kita berbunga-bunga mencintai sahabat kita. Atau kita sekarang bersahabat dengan seseorang yang pernah menjadi kekasih atau pasangan kita?
Akan ada banyak kisah yang kan membuat kita tersenyum dan bahagia mengingat kembali kenangan-kenangan tentang cinta dan persahabatan ini.

Saran penulis, bagi yang belum bisa move on dari kekasih yang pernah menyakiti, cobalah berdamai dengan keadaan, siapa tahu mantan itu akan menjadi sahabat terbaik kita.

Sekian

 

puri, 19917

ilustrasi gambar : Selsa

 

Yang Terserak di Agustus Lalu

malam meranum sudah
mata enggan mengatup
lalu angan berlari
mengejar sesosok impian
sang penabur benih yang tak pernah benarbenar terlupa
meski ombak tak pernah merestui
*
jiwa terkapar sudah
pada rasa yang kini meluap
mencabik hati layak sebuah badik
pedihkan segala ingin
rindu itu syahdu
walau sesekali sanggup melumpuhkan persendian raga
*
ada baiknya segera terlelap
menjemput impian
membingkainya dalam kisah panjang
esok pagi kan kupasrahkan pada embun
lalu biarkan menguap bersama pendar mentari
*
atau aku nikmati saja perih merindu
agar aku bisa maknai arti adamu
yang selama ini mendiami hati
lalu aku kabarkan pada dunia
tentang sebuah kisah cinta yang tak pernah padam
meski raga tak pernah menyatu
*****
sajak malam untukmu yang jauh di ujung samudera, rindu itu nikmat

#tengah_malam sumbing 13 Agustus 2013

 

dan aku menangis
menatapi sajak syahdu yang kau cipta
betapa indah kau metaforakan asaku
pada tanah yang telah menumpahkan darah leluhur
pada butiranbutiran putih pasir pantai elok
juga pada kisah cinta agung yang terhalang samudera
cinta ini demikian dahsyat
padamu dan pada tanah moyangku

#merindu_pelukan_hangatmu

dini hari, sumbing 14 Agustus 2013

“Nak jadilah kau putra bangsa yang sesungguhnya, bangunlah negerimu dengan peluhmu, cintai pertiwi dengan jiwamu, jagalah tahtanya dengan nyawamu, negeri elok ini wasiat kakekmu, leluhur yang di dalam jiwanya hanya ada kata berjuang tuk negeri, bentengi merah putih negeri dengan kobaran semangatmu, negeri kita negeri elok , di waktu dulu, banyak bangsa asing yang menaruh ingin pada tanah subur kita, hingga kerakusan tuk menguasai kekayaan kita dengan cara yang tak senonoh.
Mereka telah terusir oleh semangat juang dan nyawa para leluhurmu, kita merdeka nak, dan waktunya kini kau menjaganya arti kata merdeka ini
Tiada yang bisa ibunda membanggakan darimu selain kau bisa menjaga ibu pertiwimu agar tetap elok, cantik dan anggun. Jauhkan negerimu dari kehancuran yang kini menggerogoti kegagahannya, enyahkan bangsamu dari kerakusan anak bangsa yang tak tahu diri itu, agar mereka tak semena-mena menginjak-injak kata merdeka yang pernah di kobarkan kakek nenekmu di waktu dulu.
Ingatlah selalu nak, Aku mendidikmu dengan keringat kasih sayang agar kau menjadi pejuang bukan pecundang bagi bangsamu sendiri”

#pesan_ibunda

jelang dirgahayu negeriku, 15 Agustus  2013

 

merindumu bagai menggenggam bara
ada baiknya aku tanggalkan bayangmu saja
agar tak membakar jiwaku

18 8 2013

kekasihku, pembunuhku
bertubitubi ia hunuskan pedang cintanya
tepat pada segumpalan jantung yang kini melemah
dan terhenti
aku terkapar
menemui pemakaman sunyi
tanpa suara
tanpa angin
hampa….

#lembah dingin sumbing 2013

 

Menekuri Waktu

langit masih membiru
pucukpucuk ilalang tetap berlagu
di semilirnya angin kumenekuri langkah takdir
mengeja setapak demi setapak alur kehidupan
yang tak mungkin kukatamkan dalam semalam
 
langit masih menumpu putih awan
burung gereja lalu lalang membangun sarang
di semburat jingga senja kubisikkan dedoa
kelak saat waktuku mendekati kata akhir
kuingin  memeluk bumi tanpa mewariskan resah
 
langit masih benderang
mencatatkan tulisan-tulisan kalam
melaju seiring putaran waktu
meninggalkan aku dalam kelesah yang merajam jiwa
tak lagi kuasa kutawar ajal
*puri 17717*

akhir nafas

hitam
gelap
gulita
kaku
terdengar cangkul mengaduk
mengerutuk
menimbun
masih ada sesenggukan tangis
air mata menetes deras pada tanah merah
lalu
samarsamar
langkah kaki makin menjauh
dan pergi
sunyi
gelap
gulita
bertahta nisan tanpa nama

 

17 juli 2003

Blog di WordPress.com.

Atas ↑