Mengenangmu

hujan dan senja

menjelmakan lamunan penuh air mata

jiwaku melayang

bersama tiupan angin

entah di huma mana ku kan didamparkan

kuberikan saja pada lintasan takdir

aku dan kamu

mengikat doa sepanjang hayat

Iklan
Featured post

Merindumu dalam Al Fatihah

begitu sepi, begitu luka
dalam diam kenanganmu menghujam jiwa tanpa ampun
aku terkapar oleh rindu

semestinya tak lagi aku mengharapmu setelah di 18 9 18 lalu kau pergi
semestinya aku membencimu saja agar tak kurasa luka ini
sebab janjijanji kini tak lagi kau penuhi
namun aku tak kuasa menyerapahimu
aku tak bisa sekedar bicarakan kecewaku atasmu
namamu terlalu putih untuk kutuliskan benciku
jiwamu terlalu agung tuk aku nodai dengan caciku
hanya al fatihah saja penyambung rasaku padamu
dan kenangku atas namamu bertabur kamboja kuning peneduh makammu


24119 puri sunyi

, dalam rindu yang tak pernah tuntas

Cinta yang Kupendam

Long Distance Relationship atau bahasa gaulnya LDR pernah aku alami bertahun silam. Oleh sebab pekerjaan Mas Suami yang sering ke luar kota, pulau bahkan luar negara, maka kuikhlaskan saja menjalani LDR ini. Dari yang seminggu, sebulan bahkan setahun tidak bertemu pernah aku alami.
Terakhir aku berpisah selama 6 bulan karena Mas Suami kerja di Palembang.
Sebenarnya tidak begitu bermasalah bagi kami untuk menjalani beratnya hidup terpisah, karena aku percaya sepenuhnya pada mas suami, meski terkadang kami kerap salah paham karena komunikasi yang terbatas. Terkadang ngobrol via telpon tidak semudah kalau kita bicara berhadapan. jadi ada saja salah ucap atau salah paham yang jadi pemicu pertengkaran.

It’s okey.. hidup terus berlanjut. Yang akan kutulis bukan soal LDRnya namun yang jadi masalah terbesarku adalah sifat Mas Suami yang baperan (maaf ya Mas?). Dia tidak tegaan kalau istrinya bersedih. Maka sekuat hati aku harus menutupi kegelisahan hati, termasuk bila aku kangen. Ini masalah beratku. Aku harus memendam rasa kangen dan cintaku.
Padahal sebagai wanita kita selalu ingin ungkapkan rasa cinta, rasa rindu pada pasangan tercinta kita ya? namun semua itu harus aku tahan demi kenyamanan hatinya, agar dia tenang mencari nafkah buat kami, adakah alasannya? Tentu.

Mas Suami pernah mengungkapkan kegelisahannya, bila aku bilang kangen, maka dia ingin segera pulang dan tidak ingin kerja jauh dari aku. Padahal di kampung tidak ada proyek yang sesuai untuk keahliannya. Nah untuk membuat dia nyaman bekerja, aku selalu urungkan niat hati untuk mencurahkan kerinduan. Hanya saat pulang saja aku lepaskan kerinduan dan rasa cintaku padanya.

Inilah sekelumit tentang cinta dan rindu yang kupendam untuk Mas Suami. Tulisan ini untuk disertakan dalam arisan tantangan menulis #1pekan1tulisan dari Empisempis Temanggung.

 

 

Sandal Jepit

sendal jepit

Sejak jaman jebrot aku sangat suka bila memakai alas kaki yang disebut sandal jepit. Meski kadang aku juga memakai sepatu pantofel atau high heels namun dalam keseharian dan juga saat berpergian aku lebih suka memakai sandal yang ringan dikenakan itu.

Karena sudah terbiasa memakai sandal jepit yang menurut sebagian orang adalah sandal “kamar mandi” aku tak pernah risih memakainya kemana saja yang sekiranya pantas.

Pernah sekali waktu aku harus keluar kota antar gadisku, Rara ke tempat PKLnya di Banjarnegara. karena dari rumah sudah hujan, maka kuputuskan memakai sandal jepit saja. Belum juga keluar Kota Temanggung, hujan sudah reda. Memasuki Banjarnegara cuaca sangat cerah, dan Rara minta singgah ke mall dekat kostnya untuk membeli peralatan mandi yang sudah habis.
Ternyata saat jalan di mall, Rara baru sadar kalau emaknya pakai sandal jepit. Tentu dia protes “Mama, kaya gak punya sandal lain, pergi jauh pakai sandal jepit”.
Aku jawab dengan santai “Lah emangnya kenapa?”.
“Nggak malu ?”
“Nggak”
“Ish..dasar mama” akhirnya Rara menyerah hehehe.

Bagiku, tak perlu malu selama apa yang aku kenakan nyaman dipakai, termasuk bila aku sering kedapatan memakai celana training saat berpergian ke tempat yang bukan acara resmi. Ke Jakarta dengan naik bus umum pun aku penah berpakaian training, kaos oblong, dan bersandal jepit, hehehe…
Penampilan sederhana seperti ini tidak membuatku merasa rendah diri dari orang, karena bagiku bereprilaku yang baiklah yang utama.

So…kalau suatu saat melihatku bercelana training, kaos oblong dan beralas kaki sandal jepit jangan meledek ya?.

 

*purikencana,11119*

 

#empisempis

Harimu (Re-Post Ultah 27 Agustus 15)

Ini hari istimewamu, harusnya aku ada di sampingmu. Kita berdua nikmati indahnya senja atau sekedar duduk nikmati aroma kopi sambil bersandau gurau, seperti tahun-tahun yang lalu. Bicarakan semua hal tentang indahnya kisah sedu sedan, tawa ria, yang pernah kita lewat bersama.

Waktu yang pernah kita tapaki bersama adalah saat terindah sepanjang hidupku, dan kamulah yang kerap mengkanvaskan goresan-goresan warna di setiap langkahku.

Adamu adalah takdirku yang senantiasa aku terima dalam keikhlasan hati meski terkadang kisahnya yang berpihak. Kedukaan yang pernah menghadang jalan kita, adalah onak yang perangi bersama dengan kasih yang tiada batas.

Ini hari istimewamu, maafkan aku yang tak kuasa ucapkan dedoa terbaik, meski sudah aku persiapkan jauh-jauh sebelum hari ini tiba waktunya. Rangkaian doaku padamu tercekat di antara rindu dendam yang kuasai hati, hingga keegoisanku bertengger angkuh saat ini.

Namun, percayalah masih ada ruang di kalbuku untukmu, untuk kita kembali menuliskan cerita yang belum sempat kita catatkan di batas cakrawala. Aku menunggumu, untuk kembali mentautkan tangan, berjalan beriringan menuju senja, di mana akan aku persembahkan segenap rasa, hanya untukmu.

Selamat Ulang Tahun,

Semoga keberkahan senantiasa menaungi harimu, suamiku…

 

27 Agustus 2015aku dan kamu2

Belahan Jiwa, Pergilah

Dia pergi dalam pelukanku di ambang sore, sesaat sebelum panggilan sholat ashar berkumandang. Aku hantarkan kepulangannya menghadap Illahi dengan Kalimatullah dari bibirku yang meluncur deras, sederas air mataku.

Saat irama jantungnya yang terekam di monitor kulihat melemah, dalam getar, dan rasa yang entah saat itu, aku bisikkan padanya “Kalau kamu mau pergi dariku, pergilah, aku ikhlas, anak-anak ikhlas, aku mencintaimu.. laa ilaaha illallah”

Perlahan detak jantungnya melemah, hingga di monitor pemantau jantung, hanya ada garis lurus. Lalu dokter mengatakan bahwa suamiku, belahan jiwaku, dinyatakan meninggal dunia”

Seketika aku  meminta dokter memacu lagi jantungnya, aku yakin dia masih hidup, dia hanya koma, aku tak pecaya bahwa dia benar-benar meninggalkan aku. Dia telah menggenapkan tugasnya sebagai pendampingku detik itu juga

Saat itu aku lupa, bahwa Allah adalah penentu takdir, aku berteriak ke dokter “Dokter  salah, dia masih hidup dok, tolong saya, dia pernah janji ke saya mau ajak saya umroh dok, tolong pasang alat-alatnya lagi dok…, dia hanya koma dokter”

Dan banyak permintaanku ke dokter yang aku sendiri tak sadar ucapkan. Adikku menarik tubuhku, dibawanya aku masuk mobil.

“Aku mau temani papa” rajukku pada adik sepupuku.

“Sudah mbak pulang aja, biar mas ditemani bapak” kebetulan memang pamanku bapak dari sepupuku,dari awal nemeni aku di ruang ICU rumah sakit itu. “Mas sudah senang, gak sakit lagi, sekarang kita pulang, nyiapin segalanya buat hari terakhirnya”
Sambil terus menangis, saat itu, aku hubungi anak-anak, sahabat-sahabat dan saudaraku persatu

Hati siapa yang tidak teriris pedih, semenjak kami menikah, seringkali dia bertugas di luar kota bahkan di luar negeri, Namun terhitung semenjak April 2016, kami selalu bersama. Dia tidak kerja lagi karena kesehatannya yang naik turun. Praktis hari-hariku hanya berdua dengannya saat anak-anak kerja dan sekolah.

Merawat sakitnya selama ini, ada iba, ada kesal dan ada bahagia. Iba karena sebelum sakitnya, dia adalah lelaki kuat yang “gila kerja”, aku tahu dia “tersiksa” sebab tidak bisa kerja. Aku selalu besarkan semangatnya, dan mendoa untuknya agar dia bisa kembali sehat dan bekerja. Kesal karena terkadang dia tidak bisa dipantang soal makanan, aku cerewet soal ini, sedang dia terlalu cuek. Kadang juga malah nyuri-nyuri pergi sendiri hanya untuk beli nasi brongkos kesukaannya. Tapi terakhir dia mulai menurut saranku setelah di suatu malam, sambil menangis aku katakan padanya “Mas, sekarang terserah kamu deh, aku sebagai istri inginkan yang terbaik untukmu, tiap detik aku berdoa untuk kesembuhanmu karena aku sayang kamu, tapi kalau kamu gak bisa menahan nafsu makanmu, aku nyerah”. Dia diam, tapi aku yakin dia mengiyakan apa yang aku katakan.

Terbukti saat diajak sahabatnya jalan-jalan, dia menolak ajakan makan nasi brongkos, sahabatnya cerita ke aku, katanya beralasan “Nanti istriku ngamuk kalau aku makan brongkos”. Apapun alasannya, aku senang dia mulai memikirkan kesehatannya sendiri.

Setahun setengah bersama, tak  mudah bagiku menerima perpisahan ini. Aku ingin berontak sama Tuhan “Kenapa disaat aku sangat menyayanginya, Tuhan ambil dia?”.

Astagfirullah…gejolak hatiku tak beraturan. Kadang aku ingin marah sama Tuhan, tapi kadang aku sadar, bahwa Tuhan terlalu sayang sama dia. Sakitnya telah Dia cabut, tugasnya telah Dia tuntaskan. Tuhan ambil dia dalam keadaan yang sangat baik. Seharian sebelum ajalnya, jam 3 dini hari dia sholat tahajud, dilanjutkan membaca Al Qur’an. Hingga pagi setelah sholat subuh dia mandi dan mempersiapkan diri untuk cuci darah yang kedua kalinya. Jam 7 pagi aku suapin dia, meski sebenarnya bisa makan sendiri, namun entah aku ingin sekali menyuapinya. Lalu aku antar pakai motor ke RSU untuk cuci darah.

Saat mesin hemodialisa berjalan dia tertidur, dan aku juga tertidur di sampingnya. Tak lama dia mengusap lenganku sambil berkata “Sana sarapan dulu, trus tidur di rumah”.

Merasa dia akan baik-baik saja aku pulang, dan tidur di rumah. Hingga jam 10:30 wib, aku kembali ke RSU. Ternyata mesin hemodialisa macet karena ada pembekuan darah. Dan dia tidak mau diulang, katanya “Aku sudah sangat sakit”.

Aku menuruti kemauan dia untuk pulang secepatnya, meski perawat menyarankan agar dia rehat dulu di ruangan hemodialisa itu. Aku tahu dia akan nyaman di rumah ketimbang harus menunggu di RSU.

Aku pesankan Grab buat antar dia pulang. Dia terlihat sangat lemas karena tensinya ngedrop 80/… Sesampai di rumah, aku bikinkan dia teh panas, aku suapi dia beberapa sendok. Lalu dia tertidur.

Hanya beberapa menit tidur, dia terbangun, dia minta aku mengelus-elus dadanya. Aku menuruti permintaannya. Lalu dia meminta aku tidur disampingnya, pun aku ikuti sambil masih terus mengelus dadanya perlahan.

Saat sholat dhuhur tiba, aku minta dia sholat dulu dengan tayamum saja. Namun setelah sholat aku lihat fisiknya yang makin melemah, aku tawarkan untuk membawanya ke rumah sakit, tapi dia menolak “Keloni aku di rumah saja”. elaknya.

Namun waktu berputar seakan sangat lambat, sedang dia makin melemah. Untung adik sepupu datang bersama suami. Atas rundingan bersama, kami memutuskan membawanya ke rumah sakit yang pelayanannya lebih baik. Aku bawa dia ke rumah sakit di Parakan, kota kelahiran nya.

Di dalam mobil dalam perjalan ke rumah sakit, aku duduk di sampingnya sambil mengelus punggungnya. Aku melihat binar matanya sangat bahagia, mirip anak kecil yang diajak jalan-jalan. Aku pikir dia senang karena selama beberapa minggu dia tidak aku ajak jalan-jalan karena dirawat di rumah sakit. Matanya sama sekali gak melihat ke arahku, meski tanganya kemudian menggenggam tanganku.

Sesampai di ruang IGD,pukul 14;00 wib, dia masih sangat lantang menyebutkan namanya. Beberapa saat aku ditanya-tanya dokter, kemudian aku dipersilahkan keluar, krn akan dipasang kateter.

Baru saja aku letakkan tubuhku di kursi aku dipanggil perawat, katanya “suami kejang bu”

Alu lari ke arah tempat dia dibaringkan, aku lihat dia tengah kejang, aku dekati telinganya, aku tuntun dia untuk selalu menyebut asma Allah, untuk selalu doa meski dalam hati. Sesaat  dia sudah tak kejang lagi. Aku tidak peduli para perawat sibuk memacu jantungnya. Mulutku sibuk membisiki Asma Allah dan dedoa di telinganya. Tidak ada 15 menit kemudian dia berpulang ke Rahmat Allah dalam dekapanku.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un
Allah telah mengambilnya dari pelukanku, aku harus ikhlaskan dia, meski hingga detik ini aku belum sanggup menata hati.  Tapi aku harus ikhlaskan kepergiannya.

Al Fatihah

 

Dengan duka dan air mata aku lepas kepulangannya ke rumah Allah…

Selamat jalan belahan jiwaku, maafkan aku
Bahagialah kau di surgaNya…
Aku masih di sini, untuk melanjutkan tugasmu demi anak-anak kita

RIP
Sumardiyanto Harjo Suprapto
27 Agustus 1965
17 September 2018

mas well

 

                           

 

Wisata dalam Kota Temanggung

 

Sejak menjadi “pengusaha” angkringan (nggak boleh protes lo ya mbak bro semua-setiap orang yang punya usaha disebut pengusaha hehehe), sepertinya aku jadi melupakan Temanggung beserta tetek bengeknya (untuk kata ini kadang heran teteknya siapa yang bengek?),terutama dunia malam. Padahal yang aku sadari, alam dunia Temanggung ini selalu mampu membuat gejolak berfiksiku meluap-luap, bahkan luapan air Katulampa di barat sana kalah dengan hasratku, meski akhirnya mentok hanya menjadi draft dengan beberapa kalimat .

 

Sesekali sih sebenarnya aku “keluar” menikmati kota sejuk ini, ke pasar. Namun angka-angka rupiah dari otakku ternyata lebih menguasai otakku, sehingga menutupi daya khayalku bermain kata. Dan aku ikhlas saja dikuasai daftar belanja dan olahan pikiran untuk menyukupkan kebutuhan hidup

 

Terhitung sudah 3 bulan ini hidup dan kehidupanku berkutat dapur, sumur,gerobag angkringan yang berisi nasinya meong, aneka sate kelas kaki limaan, minuman jahe dan kopi saja. Hingar bingar Temanggung terlupa untuk sejenak. Padahal dengan maraknya pembangunan pra sarana dan sarana yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten demikian gemebyar.

 

Tugu Nol Km yang berseberangan dengan Kelenteng telah disulap menjadi tempat rekreasi murah meriah dengan air mancur yang nyala mulai pukul 18:00 WIB, apik untuk berfoto para penggemar selfi. Apalagi di samping tugu ada Taman Pancasila yang penataan tamannya asyik untuk tempat menyegarkan mata dan jiwa.

 

Alun-alun yang dulu hanya sebatas tempat minum sop buah dan mbakso kini menjadi arena berjoget air mancur dengan papan nama memerah yang menegaskan bahwa Temanggung adalah Kota Tembakau. Kini malam hari di sekitar alun-alun menjadi lebih berwarna dengan permainan lampu dalam air mancurnya.

 

Taman Pengayoman yang letaknya tepat berada di belakang Rumah Dinas Bapak Bupati, Pendopo Pengayoman pun tak luput dari “penyegaran” Pemkab terkait. Taman yang lumayan luas kini telah disulap menjadi pusa kuliner dengan aneka makanan khas Temanggung , baik siang maupun malam. Jadi kita tak perlu lagi bingung bila ingin berwisata kuliner atau sekedar menikmati jajanan dengan tempat yang nyaman, sejuk dengan pepohonan yang diatur rapi di sini.

 

Nah mumpung sekarang  long  weekend yuk mari kita nikmati malam di sekitar Tugu Nol Km, Taman Pengayoman atau Alun-alun.

Hanya pesan saja, setelah menikmati wisata di dalam kota Temanggung, jangan  lupa mampir ke Angkringan Puri, yang berada di jalan Perintis Kemerdekaan 35 Temanggung, depan gapura Puri Kencana atau depan Sekolah HKTI, dijamin  bisa nglaras jiwa,  dengan spesial menu sate gembus

*promo*

 

alun2 top

(sumber gambar : FB Kota Temanggung – https://www.facebook.com/kotatemanggung/ )

tugu jam -tugu jam fb.jpg

(sumber gambar : FB Kota Temanggung- https://www.facebook.com/kotatemanggung/ )

pengayoman.jpg

(sumber gambar : https://temanggungan.com/taman-pengayoman-temanggung-dilengkapi-50-kios-kuliner/ )

puri sonya.jpg

(sumber gambar – selsa – menu di Angkringan Puri-Kumpul Konco Nglaras Jiwo-Jl Perintis Kemerdekaan Temanggung )

Puisi, Kata Hati yang Perlu Diendapkan

“Endapkan dulu, baca kembali, baru kalau sudah mantap setorkan” begitu pesan suhu perpuisian Bapak Roso Titi Sarkoro, penyair asal Temanggung, saat aku sodorkan beberapa puisi untuk dibukukan dalam sebuah antologi beberapa tahun silam.

Saat itu aku hanya tersenyum, perasaan sih puisi-puisiku sudah “final” dan tak perlu lagi ada edit atau ralat. Dengan enggan malamnya aku baca-baca lagi puisi itu. Dan ternyata benar apa yang dikatakan suhu itu, bahwa puisi memang perlu diendapkan, karena di beberapa puisiku itu ada semacam “kewaguan” (baca – tidak indah) saat dibaca.

Lalu aku membaca kembali puisi-puisi yang pernah aku tulis, baik yang sudah dibukukan ataupun yang ngendon di file laptop, banyak sekali kutemukan “kewaguan” di sana. Banyak yang harus aku edit dan ralat kembali, baik pemilihan diksi maupun tata letak bait-baitnya. Duh.. jadi malu sendiri.

Semula aku berpendapat bahwa puisi itu kata hati yang dituang dalam bahasa, namun seiring waktu ternyata ada beberapa kaidah yang perlu diperhatikan saat membuat puisi atau paling tidak memproklamirkan diri tulisan kita itu sebagai puisi. Meski sejatinya aku tidak begitu “patuh” dengan kaidah-kaidah baku penulisan sebuah puisi.

Menulis puisi itu mudah, namun tetap saja harus diperhatikan pemilihan diksi dan kesesuaian judul dengan isinya. Sebab menurut pengalamanku sebagai pembaca puisi, para pemula, menulis puisi panjang namun di tengah puisi, kalimat-kalimatnya (bait-baitnya) melenceng dari judul dan tidak fokus pada tema.

Ini juga sebenarnya rahasiaku saat menulis puisi, belum berani menulis puisi panjang sebab khawatir “lepas” dari ide awal dan judul.

Untuk pemula (wes kaya aku ini bukan pemula saja hehehe) sebaiknya mencari referensi terhadap karya-karya penyair yang sudah mumpuni di dunia perpuisian.

Menulis puisi tidak sekedar menggoreskan kata-kata, puisi adalah bahasa hati yang tertulis dengan indah dan perlu pengendapan.

Ok teman, mari kita menulis puisi bersama.

Persahabatan dan Percintaan

cropped-pelangi2.jpg

Persahatan jadi cinta, atau cinta jadi persahabatan, persahabatan bisa melahirkan cinta namun percintaan belum tentu berakhir menjadi persahabatan. Iya kah? Mari kita urai satu persatu.

Persahabatan jadi cinta.

Meski tidak semua sebuah persahabatan berakhir menjadi percintaan, namun sepertinya banyak dari kita yang mengalaminya
Awal bersahabat (antara manusia yang berlainan jenis), menghabiskan waktu dalam kebersamaan yang indah. Duka dan bahagia dilalui bersama. Rintangan dihadapi bersama, kemenangan pun dinikmati bersama. lalu berakhir menjadi sebuah percintaan. Sepertinya hal yang lumrah, sesuai pepatah jawa kuno wiwiting tresna jalaran seko kulino. Lahirnya cinta karena seringnya bertemu, itu kira-kira terjemahan bebasnya. Dari sering bertemu dan menjalani kehidupan bersama, timbulah benih-benih cinta. Jadi wajar kan bila sebuah persahabatan kemudian membuahkan cinta dalam hati masing-masing?.

Percintaan menjadi persahabatan.

Adapun kalimat kedua ini, sepengetahuan penulis sih hanya beberapa contoh ketika sebuah ikatan percintaan dua anak manusia berakhir, lalu keduanya menjadi sahabat. Ada sih contoh beberapa hubungan percintaan yang kandas lalu mereka menjadi sahabat. Namun jumlahnya sepertinya tidak sebanyak yang berakhir menjadi persahabatan. Sebab kebanyakan cinta berakhir karena terganjal masalah, entah masalah sepele atau masalah besar seperti perselingkuhan atau perbedaan prinsip
Namun semuanya juga tergantung dari pribadi masing-masing. Apakah kita bisa menyikapi berakhirnya kisah cinta dengan baik atau malah akan menimbulkan sakit hati ataupun dendam.

Lalu kita berada di kalimat mana nih? Mari sebelum tidur kita sempatkan waktu sedikit untuk sekedar mengingat-ingat, langkah apa yang pernah kita lakukan sehubungan dengan persahabatan dan cinta ini? Pernahkah kita bersahabat dengan seseorang lalu membuat hati kita berbunga-bunga mencintai sahabat kita. Atau kita sekarang bersahabat dengan seseorang yang pernah menjadi kekasih atau pasangan kita?
Akan ada banyak kisah yang kan membuat kita tersenyum dan bahagia mengingat kembali kenangan-kenangan tentang cinta dan persahabatan ini.

Saran penulis, bagi yang belum bisa move on dari kekasih yang pernah menyakiti, cobalah berdamai dengan keadaan, siapa tahu mantan itu akan menjadi sahabat terbaik kita.

Sekian

 

puri, 19917

ilustrasi gambar : Selsa

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑